

Beberapa hari lalu, saat senja mulai turun dan azan Maghrib hampir terdengar, aku berkunjung ke rumah seorang sahabat. Di sana, putranya datang menyapaku. Wajahnya terlihat pucat. Tubuhnya lemas. Ada sesuatu yang ganjil.
Aku pun bertanya:
“Apakah semuanya baik-baik saja?”
Ayahnya tersenyum dan menjawab,
“Insya Allah tidak apa-apa. Ia baru saja bangun tidur.”
Aku lanjut bertanya,
“Mengapa ia tidur di luar waktu tidur?”
Ayahnya menjawab pelan,
“Karena ia terbiasa begadang. Ia sering terjaga sampai pukul dua dini hari.”
Seketika aku terkejut dan refleks berkata:
“A‘ūdzu billāh! Ini adalah jalan tercepat menuju kegagalan dalam ujian.”
Pengalamanku: Ujian Tidak Butuh Begadang
Sepanjang hidupku, sejak di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi, aku telah melewati puluhan ujian. Dan demi Allah, aku tidak pernah gagal dalam satu pun dari mereka. Bahkan, aku selalu termasuk dalam jajaran pelajar terbaik.
Tapi ketahuilah, aku tidak pernah begadang demi belajar.
Justru sebaliknya — aku tidur lebih banyak pada malam-malam ujian dibanding hari biasa.
Anak itu tampak terkejut dan bertanya:
“Anda tidur lebih banyak saat ujian?”
Aku menjawab:
“Tentu. Bukankah ujian itu seperti lomba atau pertandingan? Pernahkah kau lihat seorang petinju berjaga semalam suntuk menjelang pertarungan? Tidak! Ia akan tidur cukup, makan yang bergizi, dan memastikan tubuhnya dalam kondisi terbaik.”
Nasihat Pertama: Tidur dan Makan Itu Penting
Nasihat pertamaku untuk kalian — wahai para pelajar —
Perbaikilah pola tidur dan asupan makanan.
Tidurlah delapan jam penuh di malam hari.
Makanlah dengan cukup dan bergizi.
Anak itu kembali bertanya:
“Lalu, bagaimana dengan waktu belajar?”
Aku menjawab dengan tenang:
“Waktu akan selalu cukup bagi yang mengelola dengan bijak. Satu jam belajar dalam kondisi segar jauh lebih bernilai daripada empat jam belajar dengan mata mengantuk dan pikiran mengawang.”
Nasihat Kedua: Kenali Dirimu Sendiri
Lalu aku berkata:
“Nasihat kedua — kenali tipe belajarmu!”
Ada yang disebut dengan pelajar visual: ia menghafal dengan melihat.
Ada pula yang auditori: ia memahami dan mengingat lewat suara.
Jika kamu adalah tipe visual, maka bacalah buku sendirian. Tandai, garis bawahi, visualkan.
Namun jika kamu auditori, belajarlah dengan teman. Minta mereka membacakan untukmu.
Anak itu penasaran dan bertanya:
“Bagaimana saya tahu tipe saya?”
Aku menjawab,
“Mari kita uji. Aku akan bacakan sepuluh kata acak, kamu dengarkan dan coba ingat. Setelah itu, aku akan tulis sepuluh kata baru dan hanya kau lihat sekejap. Lalu kita lihat, mana yang lebih banyak kamu ingat. Itulah caramu belajar.”
Nasihat Ketiga: Belajar itu Dinamis, Bukan Statik
Aku melanjutkan:
“Nasihat ketiga: Buatlah variasi dalam jadwal belajarmu.”
Jika sudah lelah belajar matematika, alihkan sejenak ke sejarah.
Jika bosan dengan fisika, beralihlah ke sastra.
Seperti otot yang penat, pikiran pun butuh selingan.
Dan inilah metode belajar terbaik yang aku jalani selama ini:
Lalu tiba saatnya murāja‘ah — mengulang pelajaran.
Bawalah bukumu, berjalanlah sendiri di tempat tenang.
Bayangkan dirimu sedang ujian.
Tanyakan pada dirimu sendiri inti dari setiap bab:
“Apa pokok bahasan ini? Apa isinya?”
Jika kamu masih ingat jawabannya, lanjutkan.
Jika lupa sebagian, cukup baca ulang bagian yang kamu tandai.
Namun jika lupa total, maka ulangi membaca seluruh bab — karena itu artinya kamu belum benar-benar paham.
Pesan: Ilmu Butuh Adab, Bukan Sekadar Hafalan
Wahai para pelajar…
Apa yang kusampaikan ini bukan teori kosong.
Bukan pula motivasi basa-basi.
Ini adalah buah dari pengalaman nyata,
dari tahun-tahun panjang yang kuhabiskan di ruang ujian, ruang baca, dan ruang sunyi perenungan.
Inilah yang disebut oleh sebagian ulama sebagai:
Fiqh at-Ta‘allum — Ilmu dalam Belajar.
Ilmu yang lebih penting daripada sekadar menumpuk hafalan.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu.’”
(QS. Ṭāhā: 114)
Doa untuk Para Pencari Ilmu
Semoga engkau, wahai penuntut ilmu…
Diberi taufiq untuk belajar dengan benar,
Beristirahat dengan cukup,
Dan menghadapi ujian dengan siap — lahir dan batin.
Karena ilmu tidak akan pernah menetap di hati yang letih,
dan tidak akan masuk ke dalam kepala yang penuh kekacauan.
Belajarlah dengan fitrah.
Belajarlah dengan hati yang tenang,
dan jiwa yang yakin bahwa setiap usaha yang kau curahkan hari ini,
akan dibalas oleh Allah dengan kemudahan dan keberkahan di hari esok.
bersambung ………….
tulisan tsb. sudah saya masukkan dalam buku KUMPULAN ESAI-ESAI SOSIAL SYEH ALI THONTOWI – yang saya terjemahkan dari kitab
(مع الناس) = yang saya beri judul ” Catatan dari Tengah Masyarakat ” kira-kira 700 halaman lebih … he he