Info Penting
Jumat, 03 Apr 2026
  • Selamat datang Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2025/2026 di Yayasan Darul Hasanah! Mari bersama menapaki perjalanan ilmu, akhlak, dan prestasi untuk masa depan yang gemilang!
  • Selamat datang Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2025/2026 di Yayasan Darul Hasanah! Mari bersama menapaki perjalanan ilmu, akhlak, dan prestasi untuk masa depan yang gemilang!
21 Agustus 2025

Nasehat pendidikan ke 11 Kesepakatan antara orang tua dalam hal perincian pendidikan dan cara menangani anak-anak adalah sesuatu yang sangat penting

Kam, 21 Agustus 2025 Dibaca 182x

Muhammad Ajib

Nasehat pendidikan ke 11

اتفاق الوالدين في تفاصيل التربية وكيفية التعامل مع الأطفال أمر ضروري، فإن غياب هذا الاتفاق قد يؤدي إلى نتائج عكسية على عملية التربية.

يجب أن يتفق الوالدان على ما هو مسموح وما هو ممنوع، بحيث لا يكون أمر مقبول من الأب مرفوضًا من الأم أو العكس. كما ينبغي أن يتفقا على مواقفهما تجاه تصرفات الأطفال، فلا يبتسم أحدهما أثناء تأنيب الآخر للطفل أو معاقبته، ولا ينبغي أن ينقض الزوج أمر زوجته، ولا أن تحتضن الأم الطفل وتهدئه بعد أن يعاقبه الأب أو يزجره.

لكن يجب الحذر من أن يصل هذا الاتفاق إلى حد يجعل الطفل يشعر بأنه منبوذ أو وحيد في مواجهة “هجوم مزدوج كاسح”، كأن يشترك الأب والأم معًا في ضربه أو زجره أو تأنيبه. المطلوب هو التوافق في المواقف والآراء، وليس تحميل نفسية الطفل الرقيقة الحساسة أكثر مما تحتمل، مما قد يؤدي إلى سحقها، لا قدّر الله.

 

Kesepakatan antara orang tua dalam hal perincian pendidikan dan cara menangani anak-anak adalah sesuatu yang sangat penting. Ketiadaan kesepakatan semacam ini dapat menyebabkan dampak negatif terhadap proses pendidikan anak.

Orang tua harus menyepakati apa yang dilarang dan diperbolehkan, sehingga tidak ada sesuatu yang diterima oleh ayah tetapi ditolak oleh ibu, atau sebaliknya. Mereka juga harus sepakat dalam menyikapi perilaku anak-anak, sehingga salah satu dari mereka tidak tersenyum saat yang lain sedang menegur atau menghukum anak. Seorang suami tidak boleh membatalkan keputusan istrinya, begitu pula seorang ibu tidak seharusnya memeluk dan menenangkan anak setelah dihukum atau ditegur oleh ayahnya.

Namun, perlu diwaspadai agar kesepakatan ini tidak sampai membuat anak merasa ditinggalkan atau sendirian menghadapi “serangan ganda yang dahsyat”, misalnya ketika ayah dan ibu bersama-sama memukul, menegur, atau menghardiknya. Yang diperlukan adalah kesepakatan dalam sikap dan pendapat, bukan memberikan tekanan yang berlebihan terhadap jiwa anak yang lembut dan sensitif hingga hancur—na’udzu billah.

Ulasan dan Contoh Kasus dalam Kesepakatan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Kesepakatan antara orang tua dalam mendidik anak adalah faktor penting yang menentukan keseimbangan emosional dan perilaku anak. Ketidaksepakatan dalam mendidik dapat menimbulkan kebingungan, ketidakpastian, bahkan sikap manipulatif dari anak terhadap orang tuanya.

Berikut adalah beberapa contoh umum yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Perbedaan Pendapat dalam Aturan di Rumah

Contoh Kasus:

Seorang ayah melarang anaknya bermain ponsel saat makan, tetapi ibu tidak terlalu mempermasalahkannya. Saat makan malam, anak mengambil ponsel, dan ketika ayah menegur, sang ibu justru berkata, “Biarkan saja, kan cuma sebentar.”

Dampak:

  • Anak menjadi bingung apakah aturan itu harus ditaati atau tidak.
  • Anak bisa mulai cenderung memilih berpihak kepada orang tua yang lebih permisif.
  • Anak berpotensi menjadi manipulator, misalnya jika ayah tidak ada, ia akan bermain ponsel tanpa takut dimarahi.

Solusi:

Orang tua harus bersepakat sejak awal tentang aturan rumah. Misalnya, jika bermain ponsel saat makan dilarang, maka baik ayah maupun ibu harus sama-sama menerapkannya tanpa pengecualian.

  1. Ketidaksepakatan dalam Mendisiplinkan Anak

Contoh Kasus:

Seorang anak melempar mainannya ke lantai dan merusakkannya. Ayah merasa anak harus diberi hukuman ringan, seperti tidak boleh bermain dengan mainan lain selama sehari. Namun, ibu merasa kasihan dan malah memberi anak mainan baru agar dia tidak menangis.

Dampak:

  • Anak tidak belajar konsekuensi dari tindakannya.
  • Anak bisa berpikir bahwa menangis atau mengeluh kepada salah satu orang tua bisa menghindarkannya dari hukuman.
  • Orang tua bisa berdebat di depan anak, yang mengurangi wibawa mereka.

Solusi:

  • Orang tua harus berbicara lebih dulu dan menyepakati cara mendisiplinkan anak.
  • Jika satu pihak ingin memberikan konsekuensi, pihak lain tidak boleh melemahkannya dengan sikap yang bertentangan.
  • Jika ada perbedaan pendapat, diskusikan di tempat lain tanpa diketahui anak.
  1. Salah Satu Orang Tua Menenangkan Anak Setelah Ditegur oleh yang Lain

Contoh Kasus:

Seorang anak memukul adiknya, lalu ayah menegurnya dengan tegas. Setelah itu, ibu malah memeluk anak tersebut dan berkata, “Jangan nangis ya, ayah memang suka marah-marah.”

Dampak:

  • Anak merasa bahwa ibunya adalah “penyelamat” dan ayahnya adalah “penjahat”.
  • Anak tidak benar-benar merasa bersalah atas perbuatannya, malah merasa mendapatkan dukungan dari salah satu orang tua.
  • Anak cenderung mencari perlindungan dari salah satu orang tua setiap kali ia melakukan kesalahan.

Solusi:

  • Jika salah satu orang tua menegur anak, yang lain harus tetap menunjukkan dukungan terhadap teguran tersebut.
  • Jika ingin menenangkan anak, jangan sampai merusak wibawa orang tua yang menegur. Misalnya, bisa berkata, “Ayah menegur kamu karena dia ingin kamu jadi anak baik, yuk kita pikirkan bersama apa yang bisa dilakukan lain kali supaya tidak memukul adik.”
  1. Kesalahan dalam Menangani Kesepakatan yang Berlebihan

Contoh Kasus:

Ketika anak melakukan kesalahan, ayah dan ibu sama-sama memarahinya, menghardiknya, dan bahkan memukulnya bersama-sama.

Dampak:

  • Anak merasa tidak punya tempat berlindung dan bisa merasa terasing di dalam keluarganya.
  • Bisa menimbulkan trauma dan ketakutan berlebihan terhadap orang tua.
  • Anak mungkin akan tumbuh dengan perasaan rendah diri dan takut mengambil keputusan karena selalu disalahkan.

Solusi:

  • Kesepakatan dalam mendidik anak bukan berarti kedua orang tua harus selalu keras secara bersamaan.
  • Salah satu orang tua bisa berperan sebagai pendamping yang membantu anak memahami kesalahannya, tanpa merusak otoritas orang tua yang memberikan hukuman.
  • Fokus utama bukan pada menghukum anak, tetapi mengajarkan nilai-nilai positif agar ia belajar dari kesalahannya.

 

Kesimpulan

Kesepakatan dalam mendidik anak bukan berarti kedua orang tua harus selalu bersikap sama dalam segala situasi, tetapi mereka harus tetap selaras dalam nilai dan aturan yang diterapkan. Jika ada perbedaan pendapat, diskusikan secara pribadi dan jangan sampai anak melihat perbedaan tersebut sebagai celah untuk berbuat semaunya.

Yang paling penting, mendidik anak harus seimbang—tegas, tetapi tetap penuh kasih sayang. Anak butuh batasan yang jelas, tetapi juga perlu merasa didukung dan dicintai oleh kedua orang tuanya.