Info Penting
Jumat, 03 Apr 2026
  • Selamat datang Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2025/2026 di Yayasan Darul Hasanah! Mari bersama menapaki perjalanan ilmu, akhlak, dan prestasi untuk masa depan yang gemilang!
  • Selamat datang Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2025/2026 di Yayasan Darul Hasanah! Mari bersama menapaki perjalanan ilmu, akhlak, dan prestasi untuk masa depan yang gemilang!
24 Agustus 2025

Tsaqofah – من أمراض هذه الحضارة – Di antara Kerusakan yang Lahir dari Peradaban ini

Ming, 24 Agustus 2025 Dibaca 319x

Muhammad Ajib

مِن مَفاسِدِ هذِهِ الحَضارَةِ أَنَّها تُسَمِّي الاِحتِيالَ ذَكاءً، والانحلال حُرِّيَّةً، وَالرَّذِيلَةَ فَنًّا، وَالاِستِغلالَ مَعُونَةً.

Di antara kerusakan yang lahir dari peradaban ini adalah bahwa ia menamakan penipuan sebagai kecerdasan, kehancuran moral sebagai kebebasan, perbuatan tercela sebagai seni, dan eksploitasi sebagai pertolongan.

Ulasan dan Penjelasan

Salah satu penyakit besar peradaban modern adalah pembalikan makna. Sesuatu yang pada hakikatnya kotor diberi nama yang indah; keburukan dibungkus dengan istilah memikat. Inilah yang disebut oleh seorang pemikir Muslim sebagai tazwīq al-bāṭil — menghiasi kebatilan agar tampak benar.

Bahaya pembalikan makna bukan sekadar permainan bahasa. Ia adalah pergeseran akal dan hati. Manusia perlahan kehilangan kemampuan membedakan yang lurus dari yang bengkok, yang murni dari yang tercemar. Pada akhirnya, bahasa yang rusak akan melahirkan kesadaran yang rusak.

 

Dengan kata lain Ungkapan ini mencerminkan krisis nilai yang melanda peradaban modern.

Sesuatu yang dahulu dianggap aib, kotor, menjijikkan, kini dihiasi dengan nama-nama indah agar tampak mulia. Seperti pepatah Arab:

«يُسَمُّونَ الأَشْيَاءَ بِغَيْرِ أَسْمَائِهَا»

Mereka menamai segala sesuatu bukan dengan namanya yang sejati.

Inilah hakikat tahrīf (penyimpangan makna) dalam ranah sosial-budaya.

الاحتيال ذكاء (Penipuan disebut kecerdasan)
Di era ini, kelicikan dalam bisnis sering dipuji sebagai “strategi jitu” atau “kecerdikan dagang”. Padahal Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا»

Barangsiapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami. (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa kecerdasan sejati adalah kejujuran yang mendatangkan keberkahan, bukan kelicikan yang merusak.

Kecerdasan sejati bukanlah kelicikan yang menguntungkan diri sendiri, melainkan kejujuran yang membawa maslahat bersama. Sebab tipu daya, meski tampak berhasil sesaat, akan runtuh pada waktunya, sebagaimana rumah yang dibangun di atas pasir.

 

الانحلال حرية (Kehancuran moral disebut kebebasan)
Atas nama kebebasan, hak privat , batas-batas kesopanan dan kesucian runtuh. Kebebasan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri, bukan terjerat hawa nafsu. Allah ﷻ berfirman:

﴿ أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ ﴾

Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? (QS. الجاثية [45]: 23)

Atas nama “kebebasan”, manusia sering melepaskan diri dari aturan moral. Namun kebebasan tanpa arah hanyalah bentuk baru dari perbudakan: perbudakan kepada hawa nafsu.

Kebebasan sejati adalah kemampuan memilih yang benar meski sulit, bukan sekadar menuruti keinginan meski salah.

 

الرذيلة فنّ (Kejahatan moral disebut seni)
Apa yang menodai fitrah kadang dihias dengan panggung seni dan kreativitas. Seni sejati seharusnya meninggikan derajat manusia, bukan menjerumuskannya.

Peradaban modern kerap menjadikan hal-hal yang merusak akhlak sebagai “kreativitas” dan “seni”.

Padahal seni yang sejati adalah yang meninggikan martabat manusia, bukan yang merendahkannya. Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»

Sesungguhnya salah satu pesan yang masih tersisa dari kenabian terdahulu adalah: jika engkau tidak lagi punya rasa malu, maka lakukanlah sesukamu. (HR. al-Bukhārī)

Ketika seni kehilangan rasa malu, ia tidak lagi membangun jiwa, tetapi meruntuhkannya.

 

الاستغلال معونة (Eksploitasi disebut pertolongan)
Dunia modern sering melabeli dominasi ekonomi atau politik sebagai “bantuan kemanusiaan”. Padahal hakikatnya adalah penindasan yang dibungkus retorika manis.

Berapa banyak dominasi politik dan ekonomi dunia modern yang dibungkus dengan kata-kata manis: “bantuan kemanusiaan”, “kerjasama pembangunan”, atau “pinjaman lunak”. Padahal hakikatnya adalah rantai eksploitasi yang menjerat bangsa-bangsa lemah.

 

Rasulullah ﷺ menggambarkan umat di akhir zaman dengan sabda beliau:

 

«يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»

Hampir tiba masanya bangsa-bangsa lain akan memperebutkan kalian sebagaimana orang-orang lapar berebut makanan di nampan mereka. (HR. Abū Dāwūd)

Eksploitasi selalu dibungkus sebagai pertolongan, padahal ia adalah kerakusan yang memakan sumber daya dan martabat bangsa lain.

 

Catatan Reflektif

Peradaban yang menukar nama dan hakikat adalah peradaban yang rapuh. Sebab, ketika bahasa terbalik, maka hati pun terbalik. Yang salah terlihat benar, dan yang benar tampak salah. Inilah fitnah besar yang harus disadari oleh umat.

Bahaya terbesar dari peradaban yang memutarbalikkan nama dan hakikat adalah hilangnya kompas moral umat manusia.

Saat keburukan dianggap kebaikan, manusia bukan lagi berjalan di jalan cahaya, melainkan di lorong gelap yang disangka terang.

Kok bisa ? lha karena buta

Maka, kewajiban kita adalah menjaga bahasa dari penyimpangan, sebab bahasa adalah jantung peradaban. Bila bahasa jujur, maka nilai-nilai tetap terjaga; bila bahasa rusak, maka hati manusia pun terseret dalam kerusakan.

Pelacur ya disebut pelacur

Korupsi sebut saja maling

Demokrasi liberal sebut saja demokrasi liar

 

Pembalikan Makna dalam Kehidupan Kontemporer

Seandainya kita membuka mata pada dunia modern hari ini, kita akan mendapati betapa luasnya praktik pembalikan makna. Tidak sedikit hal yang pada hakikatnya rusak, tetapi dibungkus dengan istilah yang menipu. Inilah sebagian contohnya:

  1. Politik: “Kebohongan Publik” Disebut Strategi Komunikasi

Banyak politisi menjual janji-janji manis yang ia tahu tak akan pernah ditepati. Kebohongan semacam ini lalu dinamakan “retorika politik”, “strategi komunikasi”, bahkan “kecerdasan memainkan opini”. Padahal hakikatnya adalah pengkhianatan terhadap amanah.

Nabi ﷺ bersabda:

«آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ»
Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila diberi amanah, ia berkhianat.
(HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Ketika kebohongan diberi nama keindahan, orang pun perlahan kehilangan kepercayaan.

  1. Ekonomi: Riba Disebut Bunga

Dalam dunia ekonomi, praktik riba yang jelas dilarang dalam agama, dihiasi dengan istilah “bunga pinjaman” atau “biaya jasa keuangan”. Padahal Allah ﷻ berfirman dengan sangat tegas:

﴿ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ﴾

Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. البقرة [2]: 275)

Namun dalam wacana publik, riba dipoles sebagai “instrumen modernisasi” atau “mekanisme pertumbuhan”. Inilah salah satu bentuk penamaan yang menyesatkan.

 

  1. Media: Gosip Disebut Hiburan

Media sering menjual aib orang lain dengan nama “berita ringan”, “infotainment”, atau “konten trending”. Padahal sejatinya ia adalah ghibah yang dilarang agama.

Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ﴾

Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik. (QS. الحجرات [49]: 12)

Ketika gosip dipoles sebagai hiburan, masyarakat pun tumbuh dengan rasa ingin tahu yang kotor, bukan dengan ilmu yang bersih.

  1. Gaya Hidup: Hedonisme Disebut Kebebasan Ekspresi

Konsumerisme berlebihan, pesta tanpa kendali, hingga perilaku merusak diri, sering kali dibungkus dengan kata “kebebasan berekspresi” atau “gaya hidup modern”.

Padahal, kebebasan sejati adalah menjadi tuan atas nafsu, bukan budak dari nafsu. Jika manusia kehilangan kendali atas dirinya, maka sesungguhnya ia sedang diperbudak oleh apa yang ia sebut “gaya hidup”.

  1. Eksploitasi Alam: Perusakan Disebut Pembangunan

Hutan yang dibabat habis, laut yang dieksploitasi tanpa batas, sungai yang dicemari limbah industri — semua ini sering dinamai “kemajuan pembangunan” atau “modernisasi infrastruktur”.

Padahal Allah ﷻ sudah mengingatkan:

﴿ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ ﴾

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. (QS. الروم [30]: 41)

Eksploitasi semacam ini bukanlah pertolongan bagi bumi, melainkan ancaman bagi generasi yang akan datang.

Penutup: Menjaga Nama, Menjaga Hakikat

Peradaban yang menukar nama dengan makna palsu sedang menggali kuburnya sendiri. Ketika dusta disebut strategi, riba disebut bunga, gosip disebut hiburan, dan kerusakan disebut pembangunan, maka umat manusia sedang berjalan menuju kegelapan dengan lampu palsu di tangannya.

Bahasa bukan sekadar kata-kata. Bahasa adalah cermin akal dan penjaga nilai. Menjaga bahasa dari pembalikan makna berarti menjaga hati dari kerusakan. Sebab bila bahasa kita jujur, maka akhlak kita pun akan jujur; tetapi bila bahasa kita rusak, maka nurani kita pun ikut rusak.

Sejarah umat manusia penuh dengan contoh peradaban besar yang runtuh bukan karena kemiskinan sumber daya, melainkan karena **rusaknya nilai**. Ketika keburukan diberi nama indah, dan kebenaran dianggap aib, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.

  1. Romawi: Hedonisme Bernama Kemajuan

Kekaisaran Romawi adalah salah satu imperium terbesar dalam sejarah. Namun, menjelang keruntuhannya, Romawi terjerumus dalam **hedonisme**.

Para kaisar dan bangsawan menyebut pesta pora sebagai “kebesaran budaya”, dan kemewahan berlebihan sebagai “lambang peradaban”. Gladiator yang saling bunuh di arena disebut “hiburan rakyat”.

Seorang sejarawan Romawi, Sallustius, pernah menulis: *“Negeri ini lebih dulu runtuh karena korupsi moral, sebelum ia dikalahkan oleh pedang musuh.”*

Dengan kata lain, Romawi hancur bukan karena serangan luar semata, tetapi karena **penyimpangan nilai di dalamnya**.

  1. Andalusia: Kemewahan Bernama Peradaban

Di tanah Andalusia, kaum Muslimin pernah membangun peradaban yang bercahaya. Ilmu berkembang, seni tumbuh, dan kota-kota seperti Cordoba dan Granada menjadi pusat kemajuan dunia.

Namun pada masa-masa akhir, sebagian penguasa Muslim Andalusia

**mengganti semangat jihad dengan pesta kemewahan**.

Kemewahan dinamai “puncak peradaban”, sementara kesungguhan menjaga agama dianggap “fanatisme yang mengganggu kemajuan”.

Ketika makna terbalik, Andalusia kehilangan ruhnya. Maka Allah ﷻ cabut keberkahan dari mereka, hingga satu demi satu kota jatuh ke tangan musuh. Akhirnya ummat Islam lenyap dari bumi andalus

  1. Peradaban Modern: Eksploitasi Bernama Pembangunan

Kita hidup di zaman di mana kerusakan alam diberi nama “pembangunan”, penjajahan diberi nama “misi peradaban”, dan dominasi ekonomi disebut “globalisasi”.

Bangsa-bangsa kecil diperas dengan utang, lalu disebut “diberi bantuan internasional”. Alam dieksploitasi habis-habisan, lalu dinamai “modernisasi industri”.

Sejarah mengajarkan: setiap peradaban yang membalik nama akan menuai akibatnya. Romawi tumbang, Andalusia hilang, dan kini dunia modern pun mulai goyah.

Ketika kita menatap sejarah, tampak jelas bahwa **pembalikan makna adalah pertanda kehancuran peradaban**. Ia bagaikan karat yang pelan-pelan memakan besi, atau rayap yang diam-diam merobohkan tiang rumah.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan fitnah di akhir zaman:

**«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ»**

*Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya: ketika pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang amanah dianggap pengkhianat, dan orang-orang bodoh turut berbicara dalam urusan umum.* (HR. Ibn Mājah)

Maka, tugas kita bukan sekadar mengulang sejarah, tetapi belajar darinya.

Menjaga nama dan makna agar tidak terbalik, menjaga bahasa agar tidak merusak hati, menjaga nilai agar tidak ditelan nafsu.

Karena sebuah peradaban akan tegak selama ia memuliakan kebenaran dengan nama yang sejati, dan ia akan runtuh ketika ia menukar cahaya dengan kegelapan yang dipoles.