Info Penting
Jumat, 03 Apr 2026
  • Selamat datang Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2025/2026 di Yayasan Darul Hasanah! Mari bersama menapaki perjalanan ilmu, akhlak, dan prestasi untuk masa depan yang gemilang!
  • Selamat datang Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2025/2026 di Yayasan Darul Hasanah! Mari bersama menapaki perjalanan ilmu, akhlak, dan prestasi untuk masa depan yang gemilang!
28 Juli 2025

“بين المعلّم والتلميذ” (Antara Guru dan Murid)

Sen, 28 Juli 2025 Dibaca 538x

بين المعلّم والتلميذ (Antara Guru dan Murid)

DR. Ali Musthofa Thontowi
Penerjemah : Muhammad Ajib

Tahun lalu, salah satu rekan guru kami, sebut saja “Fulan”, masuk ke ruang guru dengan wajah kusam penuh amarah dan keluhan. Tubuhnya bergetar karena marah.

Ia melemparkan buku catatan ke atas meja dengan kesal, lalu menyendiri di sudut ruangan, duduk sambil memegangi kepalanya dan termenung dalam pikiran.

Aku pun mendekatinya dan mulai bertanya:

ما لك يا أخي؟ ماذا عراك؟ قل لنا، حدّثنا، لعله خير إن شاء الله.

– Ada apa denganmu, saudaraku? Apa yang terjadi? Ceritakanlah kepada kami. Semoga saja itu suatu kebaikan, insya Allah.

Ia menjawab dengan nada kesal:

قال: لقد ضاع الحياء وذهبت الأخلاق، ولم يبق في التلاميذ من يستحي أو يخجل؛ ولم يبق فيهم إلاّ كل وقح صفيق الوجه، فلعنة الله على هذه المهنة المرذولة!

“Rasa malu telah lenyap! Akhlak sudah musnah! Tidak ada lagi siswa yang tahu malu atau merasa bersalah. Mereka semua hanya tahu bertingkah tanpa adab, berwajah tebal. Laknat Allah atas profesi hina ini!”

📌 Catatan kaki:
Penulis menyisipkan komentar dalam cetakan tahun 1989:

“Pada masa itu, sekitar enam puluh tahun lalu, saya adalah guru di sekolah dasar, sebagaimana pula rekan-rekan saya: Anwar al-‘Aṭṭār, Zaki al-Muḥāsini, Jamil Sulṭān, ‘Abd al-Karīm al-Karmī, Salīm al-Zarkali, dan mereka yang lebih muda seperti Amjad al-Ṭarābulsi, Nāji al-Ṭanṭāwī, Ṣalāḥ al-Dīn al-Munjid, dan Shukrī Fayṣal.

Sebagian besar dari mereka telah berpulang ke rahmatullah – semoga Allah merahmati mereka.”

Aku bertanya lagi:

قلت: وما ذاك يا أخي؟ ألا تحدثني الحديث؟ هل اجترأ عليك بعض الأولاد؟

Apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakanlah. Apakah ada murid yang kurang ajar kepadamu?

Ia menjawab,

“Kurang ajar? Bahkan lebih dari itu! Aku sedang mengajarkan pelajaran sejarah. Kukatakan pada mereka: ‘Kaum Fenisia adalah leluhur kalian…’, namun tiba-tiba salah seorang murid yang licik itu berdiri dan mulai membantahku.

Ia berkata:
‘Bukan! Leluhur kami adalah bangsa Arab yang datang dari lereng Abu Qubais dan sekitar Gunung Sal‘a di bawah panji penghulu alam – Muhammad ibn Abdillah . Mereka membawa risalah Allah ke negeri ini, menyebarkan cahaya Islam dan meniupkan ruh padang pasir ke dalamnya.’

Murid licik ini tidak puas dengan jawabanku. Ia terus berbicara, membantah, dan tidak berhenti sampai aku terpaksa membungkamnya dengan paksa!

Celakalah dia dan siapa pun yang mengajarinya pendapat itu!

Betapa lancangnya dia, sungguh keterlaluan! Apa pun yang kukatakan, ia membalas tiga kali lebih banyak. Tak satu pun hujahku diterimanya tanpa bantahan… Semoga Allah mengutuk siapa pun yang menanamkan pandangan seperti itu ke dalam benaknya!”

Aku pun menenangkan dan berkata:

“Cukuplah mengutuk, semoga Allah merahmatimu. Orang yang menanamkan pandangan itu padanya… adalah aku!”

“Tidakkah engkau melihat bahwa pendapat itu lebih sesuai dengan kebenaran dan lebih bermanfaat bagi umat ini, dibandingkan pandanganmu yang engkau sampaikan – pandangan yang dibawa oleh segelintir musuh kita, yang mencoba memalsukan sejarah kita?”

“Mereka menciptakan nasionalisme sempit: ‘Fir’aunisme’ di Mesir, yang tidak ada dalilnya dalam agama; Fenisisme di Syam (Levant); dan nantinya akan mereka ciptakan pula Ashurisme di Irak, atau bahkan mungkin ‘Ifritisme’ (keiblisan) di tempat yang entah di mana…

Seakan-akan mereka lebih senang bila kita menisbatkan diri kepada setan atau kera (nenek moyang Darwin dan para pengikutnya), daripada mengakui bahwa kita adalah bagian dari umat Muhammad , sehingga kita mempelajari sejarahnya, lalu mengisi dunia ini dengan rasa bangga terhadapnya, serta bekerja untuk menghidupkan kembali kejayaannya.”

Nabi bersabda:

من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه

“Barang siapa yang lambat amalnya, maka nasabnya tidak akan mempercepat (mengangkat) dirinya.” (HR. Muslim)

Jadi kebanggaan itu bukan hanya pada keturunan, tapi pada nilai dan amal yang diwarisi dari umat yang membawa risalah.

Maka bagaimana mungkin kita bangga pada bangsa-bangsa kuno yang musyrik, meninggalkan ajaran tauhid, lalu melupakan kemuliaan kita sebagai penerus risalah Muhammad ﷺ?

“Identitas bukan sekadar soal darah dan tanah, tapi nilai dan arah.”

Wahai saudaraku, tinggalkan sejenak amarahmu itu.

Katakan padaku—mengapa engkau marah jika muridmu mendebatmu?

Mengapa engkau enggan kembali kepada kebenaran hanya karena ia datang dari lisan seorang murid, dan malah bersikeras mempertahankan kesalahan hanya karena itu keluar dari mulutmu?

Bukankah lebih baik dan lebih pantas, sebagai seorang pendidik, untuk kembali kepada kebenaran dan memberikan penghargaan kepada siapa pun yang menyampaikannya?

Tidakkah lebih mendidik bila engkau mengajarkan kepada murid-muridmu bahwa:

أليس خيراً لك وأجدر بك وأنت معلم أن تعود إلى الحق وتكافئ صاحبه، وتعلّم التلاميذ أنه لا شيء أحلى من الثبات على الرأي إلاّ الرجوع إلى ما هو خير منه، بدلاً من أن تعلمهم كيف يثبتون على الباطل ويدحضون به الحق؟

“Tidak ada yang lebih indah dari berpegang pada pendapat yang benar kecuali kembali kepada pendapat yang lebih benar darinya.”

Daripada engkau mengajarkan mereka cara untuk bersikukuh dalam kesalahan dan membantah kebenaran?

Ia membalas,

لا، لا. أنا أعدّ هذه الآراء تعدّياً على حرمة المعلمين وتشجيعاً للتلاميذ على مناوأتهم والمشاغبة عليهم.

“Tidak, tidak. Aku menganggap pandangan seperti itu sebagai pelanggaran terhadap kehormatan guru dan bentuk dorongan kepada murid-murid untuk melawan serta mengacaukan pelajaran.”

Aku pun berkata:

“Sedangkan aku, aku justru menganggap pandanganmulah yang melanggar kehormatan kebenaran, dan mendorong murid-murid untuk menginjak-injak fakta sejarah serta merusak masa depan umat.”

“Apakah engkau mengira aku berkata pada murid-muridku: ‘Berdirilah, rusuhilah pelajaran! Lawanlah gurumu! Hancurkan pelajaran agar kalian tidak belajar apa pun!’?

Tidak wahai saudaraku—aku lebih cemburu darimu dalam menjaga keteraturan pelajaran dan disiplin di dalam kelas, karena aku tahu bahwa ilmu adalah senjata paling tajam dalam kehidupan.”

“Namun aku berkata kepada murid-murid:
‘Carilah kebenaran dan hargailah ia sebagaimana mestinya. Ketahuilah bahwa guru memang lebih tinggi dari murid, namun kebenaran lebih tinggi dari guru, lebih tinggi dari kepala sekolah, lebih tinggi dari kementerian, bahkan lebih tinggi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.’

Terkadang, muridku mendebatku dengan lebih keras dari yang engkau alami.

Ia bahkan lebih berani terhadapku. Tapi aku meredam keberaniannya dengan banjir argumen dan bukti, hingga kebenaran membungkam semangatnya, dan ia pun duduk kembali—mengakui kesalahannya dan kembali dalam kesadaran.

Jika aku melihat ada kekasaran atau ketidaksopanan darinya, maka aku menghukumnya karena sikap tidak sopannya, bukan karena diskusinya atau perbedaan pendapatnya.

🟤 Kunci dalam semua itu adalah:

  • Keteguhan dalam mencari kebenaran,
  • Menjaga adab dan etika dalam diskusi,
  • Memberikan penghormatan yang layak kepada guru,
  • Memiliki rasa tanggung jawab terhadap kemaslahatan bersama,
  • Dan menjaga waktu agar tidak terbuang dalam debat sia-sia.

Jika murid memenuhi semua syarat ini, maka menjadi kewajibannya—terutama bagi pelajar SMA dan lebih-lebih mahasiswa—untuk tidak menerima begitu saja ajaran yang ia yakini bertentangan dengan kebenaran atau merusak kepentingan umat.

Ia harus mendiskusikannya dengan guru secara santun, dan menyadari bahwa:

🔹 Menghormati kebenaran lebih utama daripada menghormati guru,
🔹 Mencintai tanah air lebih tinggi daripada mencintai pendidik,
🔹 Takut kepada teguran hati nurani dan hukuman Allah lebih layak daripada takut kepada hukuman sekolah atau teguran administrasi.

📚 Bahkan Aristoteles—sang filsuf besar yang dijuluki “Al-Mu‘allim al-Awwal” (Guru Pertama)—pernah berkata:

«أفلاطون أستاذي، ولكن الحق غايتي. فإذا اختلف أفلاطون والحق فأنا مع الحق»

“Plato adalah guruku, tetapi kebenaran adalah tujuanku. Jika Plato dan kebenaran bertentangan, maka aku bersama kebenaran.”

Khotimah

Tulisan ini mengangkat isu penting dalam pendidikan dan identitas: bagaimana sejarah diajarkan, dan kepada siapa identitas generasi muda disandarkan.

Di antara pilihan antara warisan kebudayaan pra-Islam atau warisan risalah Islam, penulis tegas mendukung yang kedua—bukan karena menafikan sejarah lokal, tetapi karena ingin menghindari fragmentasi dan identitas yang rapuh.

Ungkapan sang murid sebenarnya adalah bentuk kesadaran ideologis yang sehat, ketika ia memahami bahwa sejarahnya bukan dimulai dari bangsa penyembah berhala, tetapi dari saat datangnya cahaya ilahi bersama Nabi ﷺ.

Tulisan ini juga mengajarkan prinsip penting dalam pendidikan: keberanian murid untuk berpikir kritis tidak boleh dimatikan dengan otoritas, dan kewibawaan guru tidak akan jatuh hanya karena menerima kebenaran dari orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya.

📖 Allah Ta‘ala berfirman:

﴿فَبَشِّرْ عِبَادِ * الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ﴾
“Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya.” (QS. Az-Zumar: 17–18)

🔖 Kebenaran tetaplah kebenaran, dari mana pun ia datang. Dan tugas pendidikan adalah mengantar pada cahaya itu, bukan menyekatnya di balik gelar dan jabatan.