Info Penting
Jumat, 03 Apr 2026
  • Selamat datang Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2025/2026 di Yayasan Darul Hasanah! Mari bersama menapaki perjalanan ilmu, akhlak, dan prestasi untuk masa depan yang gemilang!
  • Selamat datang Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2025/2026 di Yayasan Darul Hasanah! Mari bersama menapaki perjalanan ilmu, akhlak, dan prestasi untuk masa depan yang gemilang!
16 Mei 2025

Kisah Pendidikan 2 : Nabi dan Dua Kelompok Sahabatnya – النبي وفريقان من أصحابه من قصص الأبرار

Jum, 16 Mei 2025 Dibaca 132x

Muhammad Ajib
Nabi dan Dua Kelompok Sahabatnya

(دَخَلَ النَّبِيُّ ذَاتَ يَومٍ مَسجِدَ المَدِينَةِ…)

Suatu hari yang tenang, Rasulullah ﷺ melangkah masuk ke Masjid Nabawi—tempat yang menjadi pusat cahaya ilmu, ibadah, dan semangat kebangkitan umat. Suasana terasa hening, namun dalam keheningan itu tersimpan denyut kehidupan ruhani yang mengalir dari hati para sahabat yang berkumpul di dua kelompok.

Kelompok pertama tampak tenggelam dalam dzikir dan ibadah.

Dahi mereka menyentuh tanah dalam sujud yang dalam. Lisan mereka bergetar memanggil nama Allah. Derai air mata menetes di atas sajadah mereka—sebuah gambaran keintiman ruhani dengan Sang Pencipta.

Mereka adalah para pencinta yang sedang berdoa mengetuk pintu langit.

Di sisi lain, kelompok kedua tengah asyik dalam majelis ilmu.

Ada yang bertanya, ada yang menjawab.

Pena mereka mencatat hikmah. Wajah mereka bersinar oleh cahaya pemahaman.

Di antara mereka, ada yang baru belajar mengenal tauhid, fiqih, atau kisah para nabi terdahulu.

Mereka duduk dalam lingkaran, bagaikan bintang-bintang yang mengitari matahari keilmuan.

Rasulullah ﷺ berdiri sejenak, memandang keduanya.

Di wajah beliau terpancar senyum kebahagiaan yang tulus. Hati beliau berbunga melihat umatnya memilih dua jalan yang sama-sama diridhai: jalan ibadah dan jalan ilmu.

Namun, Rasulullah tidak sekadar memuji keduanya.

Dengan kebijaksanaan seorang guru dan kelembutan seorang ayah, beliau menoleh kepada para sahabat yang bersamanya, dan menunjuk ke arah kelompok kedua, seraya berkata:

مَا أَحْسَنَ مَا يَصْنَعُونَ!”
“Alangkah baiknya apa yang sedang mereka lakukan!”

Kemudian beliau menambahkan dengan penuh penekanan:

إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا.”
“Sesungguhnya, aku diutus sebagai seorang pengajar!”

Dengan langkah yang tenang, Rasulullah pun berjalan menuju kelompok para penuntut ilmu itu. Beliau duduk bersama mereka—tidak hanya sebagai Nabi dan Rasul, tetapi sebagai mu’allim, seorang guru agung yang menjadikan ilmu sebagai cahaya penerang jalan umat.

🌿 Refleksi:
Kisah ini mengandung pelajaran yang dalam tentang posisi ilmu dalam Islam.

Ibadah adalah makanan jiwa, tetapi ilmu adalah cahaya yang membimbing jalan ibadah itu agar tidak tersesat.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa pengajaran adalah salah satu misi utama kenabiannya.

Maka siapa yang duduk dalam majelis ilmu, berarti sedang duduk di sisi Rasul.

Siapa yang mengajarkan satu huruf kebaikan, berarti sedang mewarisi tugas suci kenabian.

Dalam masyarakat yang haus akan panduan dan pencerahan, kisah ini menyeru setiap hati agar tidak hanya menjadi penyembah yang taat, tetapi juga menjadi pembelajar yang gigih.

Karena hanya dengan ilmu, ibadah menemukan bentuknya yang sempurna—dan hanya dengan ilmu, umat mampu menapaki jalan lurus menuju cahaya-Nya.

“قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ”

diterjemahkan oleh muhammad ajib dari kitab قصص الأبرار